HARIANRIAU.CO - Hari Nelayan setiap tahunnya jatuh pada tanggal 21 Mei. Momentum ini diperingati sebagai bentuk apresiasi kepada para nelayan Indonesia dalam mengupayakan kebutuhan protein gizi pada masyarakat.
Dihari istimewa ini, Darwin salah satu nelayan di Kampung Sei 6 Laut, Kecamatan Bintan Timur, Kabupaten Bintan mengatakan saat ini kesejahteraannya para nelayan harus disorot oleh pemerintah terutama selama Pandemi.
“Pendapatan menurun drastis mas, anjlok, bingung apalagi situasi pandemi, daya beli masyarakat turun karena ekonomi juga tak stabil. Jadi dengan situasi seperti ini kami pandai-pandai ajela nak hidup mas," bebernya. Jumat, (21/5), Kemarin.
Diketahui, Darwin sejak umur 15 tahun menjalani profesi sebagai nelayan dan ia menyayangkan bahwa di Bintan tidak ada tempat pelelangan ikan.
Dari hal tersebut lah ia dan nelayan lainnya pada tahun ini kesulitan dalam menjual ikan yang di peroleh.
Dikatakannya, tempat pelelangan ikan sangat penting untuk di Bintan karena ekspor ikan tidak satu pintu.
Disamping itu pemerintah tidak membeli ikan dikarenakan pemerintah masing-masing melakukan ekspor sendiri.
"Dari pemerintah mereka masing-masing punya kapal bisa ekspor, jadi selama ini yang tak punya kapal jual ikan ya ke toke. Jika sama toke sulit, kadang harga dimain-mainkan sama mereka kadang naik, kadang turun jauh, pendapatan tak tentu," imbuhnya, sore kemarin.
Hal lain yang juga patut menjadi perhatian ialah ketersediaan BBM Ia mengatakan solar sangat sulit didapatkan, padahal solar merupakan kebutuhan primer untuk melaut.
Hal lain yang harus diperhatikan bagi para nelayan adalah BBM jenis solar saat ini diketahui susah didapatkan.
“Seperti BBM jenis solar untuk kelaut pake solar, kadang solar sangat sulit, selama ini kadang beli eceran mahal, kalau beli ngantri apalagi di barek motor ngantrinya sampai kelaut,"tutupnya.
OPPY

